Selasa, 02 Januari 2018

Letak Kebahagian


         Suatu ketika, terdapat seseorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak sedang melamun. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah dilewatinya, namun tak ada satupun hembusan yang membuatnya merasa puas.
            Tiba-tiba datang seorang kakek tua menyapanya, “sedang apa kau di sini anak muda?, “apa yang kau risaukan?”. Anak muda itu menoleh ke samping, “aku lelah, pak tua..,telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa kebahagiaan itu dalam diriku”. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tidak kutemukan kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Ke mana aku harus mencarinya?? Di manakah kutemukan perasaan bahagia itu?”
            Kakek tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Dipandangnya wajah lelah di depannya. Lalu ia mulai bicara,“ di depan sana, ada sebuah taman, jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku.”
                Mereka berpandangan...
       “ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tangan mu” sang kakek mengulang kalimatnya lagi.
               Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya mulai menuju ke taman tersebut.
            Taman yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan di sana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memerhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu. Anak muda itu mulai bergerak, dengan mengendap-ngendap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan, namun...HAP!!! sasaran itu luput. Dikerjarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi, HAP!!! Gagal juga.
            Ia mulai berlari tak beraturan, diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar. Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Napasnya mulai memburuk, dadanya bergerak naik-turun, detakan jantungnya bergerak cepat.
            Sampai akhirnya ada teriakan, “hentikan dulu anak muda,,istirahatlah!!” tampak sang kakek berjalan perlahan, tapi lihat, ada kumpulan kupu-kupu berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.
            Sang kakek berkata,” begitukah caramu mengejar kebahagiaan itu??”, berlalri dan menerjang, menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli  apa yang kau rusak?”
            Sang kakek berkata lagi sambil menatap tajam mata pemuda itu. “Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia akan pergi darimu.” namun tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam atau sesuatu yang dapat kau simpan.  Carilah kebahagiaan dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari ke mana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri.”
            Kemudian kakek itu mengangkat tangannya, HAPP!!, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya. Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit bagi mereka yang bernafsu, namun mudah bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari.
            Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita bisa saja mengejarnya dengan berlari ke seluruh penjuru arah. Kita dapat meraihnya dengan bernafsu seperti menangkap buruan yang bisa kita santap setelah mendapatkannya. Namun kita belajar, bahwa kebahagiaan tidak bisa didapat dengan cara seperti itu.
            Kita belajar, bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat digenggam, atau dapat disimpan. Bahagia adalah udara dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar, bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, kebahagian itu akan semakin pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkan rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan.
            Dalam bekerja, belajar, menjalani hidup, senang, sedih, gembira, baik dalam sunyi maupun ricuh, temukanlah bahagia itu dengan perlahan, dengan tenang, dengaan ketulusan hati kita. Percayalah, kebahagian itu ada di mana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati kita, namun kita tak pernah peduli. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu tak acuh untuk menikmatinya.

(sumber: www.menjelajahduniabaru.blogspot.com bisa juga dilihat dari buku Deassy M.Destiani “Bukan Untuk Dibaca “the Most Inspiring Story”)

Pesan Moral dari cerita ini: Bahagia adalah perasaan tenang dan tenteram, bebas dari segala kesusahan. Cobalah untuk mencari kebahagiaan dari hatimu, karena ia ada di mana-mana dan tidak akan kemana-kemana. Tenangkan hati kita, perlahan tapi pasti, tidak perlu harus menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, dan menerobos sana-sini untuk mendapatkannya.
Berbicara warna warni kehidupan menyangkut senang dan duka. Sebagaimana firman Allah SWT: وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah (Qs; Adz-Dzariyat Ayat: 49)”
 Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka dan Kesedihan. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti. Jangankan kita, generasi terbaik umat ini, para wali Allah, yakni para sahabat Nabi Muhammad SAW pun pernah dirundung kesedihan. Allah yang menciptakan kebahagiaan dan Kesedihan agar manusia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya Kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Tuhan yang maha rahmat dan mengasihi, serta tidak menyombongkan diri. Hingga ia mengadu harap di hadapan Allah. Seperti aduannya Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta; Yusuf ‘alaihimas sasalam
إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ 
"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. ( Qs. Yusuf : 86)"

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
“Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis” (QS. An-Najm: 43)
Oleh karena itu, tidaklah tercela bila seorang merasa sedih. Itu adalah naluri. Tak ada salahnya bila memang sewajarnya. Terlebih bila sebab-sebab kesedihan itu suatu hal yang terpuji. Seperti yang dirasakan orang beriman saat melakukan dosa, di mana Nabi mengabarkan bahwa itu adalah tanda iman.
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَاتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَاتُهُ فَهُوَ الْمُؤْمِنُ
“Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar