Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Januari 2018

Waktu Yang Sia-Sia


            Suatu hari sang guru tiba ke tepi sungai. Di pinggir sungai tinggal seorang fakir. Banyak orang yang berziarah ke sana untuk mendengar ajaran dari fakir. Orang bilang bahwa fakir itu sanggup berjalan di atas air.
            Setelah bertegur sapa, sang guru bertanya, “berapa lama kau berlatih hingga mampu berjalan di atas air?”
            Dengan bangga sang fakir menjelaskan metode yang dipelajarinya selama 25 tahun, bahkan ia harus berlatih keras selama berjam-jam tiap harinya.
           Berkatalah sang guru kepada fakir itu, “engkau berkorban begitu banyak supaya dapat berjalan di atas air. Pernahkah engkau bayangkan betapa banyak perbuatan baik yang dapat engkau lakukan dalam 25 tahun daripada menghabiskan waktu untuk mempelajari sesuatu yang dapat dilakukan setiap orang dengan sebuah perahu?”
            Bagaimana kriteria perilaku yang benar? Berikut adalah sebuah proposal prinsip perilaku yang dijunjung tinggi oleh para bijak di dunia relatif ini:
1. Dilandasi dengan niat yang tulus dan benar.
2. Bermanfaat bagi diri sendiri dan bermanfaat bagi orang lain.

(Sumber: Deassy M.Destiani “Bukan Untuk Dibaca “the Most Inspiring Story”)

Pesan moral dari cerita ini adalah: jangan biarkan waktu habis hanya untuk yang sia-sia, masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk orang banyak ketimbang melakukan sesuatu hal hanya untuk menguntungkan diri kita sendiri. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggal kan belang, dan manusia mati meninggalkan nama. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِSebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).
Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Setiap Muslim diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman: إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْJika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)


Rabu, 03 Januari 2018

Membeli Keajaiban


            Sally yang berumur delapan tahun, ketika itu dia mendengar percakapan ibu dan ayahnya yang sedang berbicara mengenai adik lelakinya, yaitu Georgi. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apa pun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bisa menyelamatkan jiwa anak kita, tapi mereka tidak mempunyai biaya untuk itu. Sally yang mendengar ayah berbisik, “hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang”.
            Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat, tiga kali. Nilainya harus benar-benar tepat. Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian. Tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seseorang anak berusia depalan tahun.
         Sally berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase..berhasil!!!
                “apa yang kamu perlukan??” tanya apoteker tersebut dengan suara marah.
                “ saya sedang bicara dengan saudara saya.”
            “ tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya,” sally menjawab dengan nada yang sama. “dia sakit, dan saya ingin membeli keajaiban” ungkap Sally kepada kakak apoteker lagi.
                “apa yang kamu katakan?!!” tanya sang apoteker.
              “ ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwa adek saya sekarang, jadi berapa harga keajaiban itu?”
          “ kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Maaf, saya tidak bisa menolong kamu” kata si kakak apoteker.
            “dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya.” Kata adek tersebut.
            Tiba-tiba seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya. “keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu??”
            “saya tidak tahu,” jawab Sally. Air mata mulai menetes di pipinya. “saya hanya tahu dia sakit parah dan Mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya,tapi saya punya uang.”
            “ berapa uang yang kamu punya?” tanya pria itu lagi.
            “ satu dollar sebelas sen, “ jawab Sally dengan bangga. “dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini.”
            “wah, kebetulan sekali, “ kata pria itu sambil tersenyum. “satu dollar sebelas sen..harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu. “ dia mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Sally sambil berkata, “bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu.”
            Ternyata pria itu adalah dr. Caltron Amstrong, seorang ahli bedah terkenal. Operasi yang dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Kedua orang tuanya sangat bahagia medapatkan keajaiban tersebut.
            “operasi itu, “bisik ibunya, “seperti keajaiban.” Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya.”
            Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut. Satu dollar dan sebelas sen..ditambah keyakinan.

            (Sumber: www.vivanews.com/psikologi)
Pesan moral dalam cerita ini: kejaiban akan selalu bersama dengan niat yang tulus serta keyakinan yang kuat. Percayalah akan janji Allah SWT dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5-6).
Dan Allah SWT juga berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا-
“Dan orang-orang yang berusaha untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan Tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut 69)
جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ -“Sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah 17).

          Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan kita meraih kelapangan dari kesempitan yang ada. Haruslah kita yakin badai pasti berlalu: “After a storm comes a calm”. Hanya Allah tempat sebaik-baik berteduh, sebaik-baik harapan, dan sebaik-baik memberi pertolongan.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ (Tiada daya dan upaya melainkan dari Allah SWT).

Selasa, 02 Januari 2018

Letak Kebahagian


         Suatu ketika, terdapat seseorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak sedang melamun. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah dilewatinya, namun tak ada satupun hembusan yang membuatnya merasa puas.
            Tiba-tiba datang seorang kakek tua menyapanya, “sedang apa kau di sini anak muda?, “apa yang kau risaukan?”. Anak muda itu menoleh ke samping, “aku lelah, pak tua..,telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa kebahagiaan itu dalam diriku”. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tidak kutemukan kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Ke mana aku harus mencarinya?? Di manakah kutemukan perasaan bahagia itu?”
            Kakek tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Dipandangnya wajah lelah di depannya. Lalu ia mulai bicara,“ di depan sana, ada sebuah taman, jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku.”
                Mereka berpandangan...
       “ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tangan mu” sang kakek mengulang kalimatnya lagi.
               Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya mulai menuju ke taman tersebut.
            Taman yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan di sana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memerhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu. Anak muda itu mulai bergerak, dengan mengendap-ngendap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan, namun...HAP!!! sasaran itu luput. Dikerjarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi, HAP!!! Gagal juga.
            Ia mulai berlari tak beraturan, diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar. Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Napasnya mulai memburuk, dadanya bergerak naik-turun, detakan jantungnya bergerak cepat.
            Sampai akhirnya ada teriakan, “hentikan dulu anak muda,,istirahatlah!!” tampak sang kakek berjalan perlahan, tapi lihat, ada kumpulan kupu-kupu berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.
            Sang kakek berkata,” begitukah caramu mengejar kebahagiaan itu??”, berlalri dan menerjang, menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli  apa yang kau rusak?”
            Sang kakek berkata lagi sambil menatap tajam mata pemuda itu. “Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia akan pergi darimu.” namun tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam atau sesuatu yang dapat kau simpan.  Carilah kebahagiaan dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari ke mana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri.”
            Kemudian kakek itu mengangkat tangannya, HAPP!!, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya. Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit bagi mereka yang bernafsu, namun mudah bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari.
            Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita bisa saja mengejarnya dengan berlari ke seluruh penjuru arah. Kita dapat meraihnya dengan bernafsu seperti menangkap buruan yang bisa kita santap setelah mendapatkannya. Namun kita belajar, bahwa kebahagiaan tidak bisa didapat dengan cara seperti itu.
            Kita belajar, bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat digenggam, atau dapat disimpan. Bahagia adalah udara dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar, bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, kebahagian itu akan semakin pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkan rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan.
            Dalam bekerja, belajar, menjalani hidup, senang, sedih, gembira, baik dalam sunyi maupun ricuh, temukanlah bahagia itu dengan perlahan, dengan tenang, dengaan ketulusan hati kita. Percayalah, kebahagian itu ada di mana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati kita, namun kita tak pernah peduli. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu tak acuh untuk menikmatinya.

(sumber: www.menjelajahduniabaru.blogspot.com bisa juga dilihat dari buku Deassy M.Destiani “Bukan Untuk Dibaca “the Most Inspiring Story”)

Pesan Moral dari cerita ini: Bahagia adalah perasaan tenang dan tenteram, bebas dari segala kesusahan. Cobalah untuk mencari kebahagiaan dari hatimu, karena ia ada di mana-mana dan tidak akan kemana-kemana. Tenangkan hati kita, perlahan tapi pasti, tidak perlu harus menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, dan menerobos sana-sini untuk mendapatkannya.
Berbicara warna warni kehidupan menyangkut senang dan duka. Sebagaimana firman Allah SWT: وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah (Qs; Adz-Dzariyat Ayat: 49)”
 Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka dan Kesedihan. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti. Jangankan kita, generasi terbaik umat ini, para wali Allah, yakni para sahabat Nabi Muhammad SAW pun pernah dirundung kesedihan. Allah yang menciptakan kebahagiaan dan Kesedihan agar manusia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya Kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Tuhan yang maha rahmat dan mengasihi, serta tidak menyombongkan diri. Hingga ia mengadu harap di hadapan Allah. Seperti aduannya Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta; Yusuf ‘alaihimas sasalam
إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ 
"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. ( Qs. Yusuf : 86)"

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
“Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis” (QS. An-Najm: 43)
Oleh karena itu, tidaklah tercela bila seorang merasa sedih. Itu adalah naluri. Tak ada salahnya bila memang sewajarnya. Terlebih bila sebab-sebab kesedihan itu suatu hal yang terpuji. Seperti yang dirasakan orang beriman saat melakukan dosa, di mana Nabi mengabarkan bahwa itu adalah tanda iman.
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَاتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَاتُهُ فَهُوَ الْمُؤْمِنُ
“Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi).

Senin, 01 Januari 2018

Setangkai Mawar Merah


            Alkisah seorang yang bernama Jhon Blanford berdiri tegak dari bangku di stasiun kereta api sambil melihat ke arah jarum jam ( Pukul 6 kurang 6 Menit). Jhon sedang menunggu seorang gadis yang dekat dalam hatinya, tetapi ia tidak mengenal wajahnya, yaitu seorang gadis dengan setangkai mawar di bajunya.
           Kisah mereka telah berjalan lebih dari setahun yang lalu semenjak Jhon membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan. Rasa ingin tahunya terpancing saat ia melihat coretan tangan yang halus di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku tersebut adalah seorang gadis bernama Hollis Molleon. Hollis tinggal di New York dan Jhon di Florida. Jhon Mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk saling bersurat.
            Beberapa hari kemudian, Jhon dikirim ke medan perang, yaitu pada perang dunia ke II. Mereka terus saling menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat yang mereka buat layaknya sebuah bibit yang jatuh di tanah, terus subur dalam hati masing-masing hingga jalinan mereka tumbuhlah satu sama lain.
            Jhon berkali-kali meminta agar Hollis mengirimkannya sebuah foto. Tetapi sang gadis selalu menolak, kata sang gadis “ kalau lah emang cintamu tulus, bagaimanapun rupaku tidak akan mengubah perasaan itu, kalau saya cantik, selama hidup saya akan bertanya-tanya apakah mungkin perasaamu itu hanya karena saya cantik saja, kalau saya biasa-biasa atau cendrung jelek, saya takut kamu akan terus menulis hanya karena kesepian dan tidak ada orang lain lagi di mana kamu bisa mengadu, jadi sebaiknya kamu tidak usah tahu bagaimana rupa saya. Sekembalinya kamu ke New York nanti kita akan bertemu muka. Pada saat itu kita akan bebas untuk menentukan apa yang akan kita lakukan”
            Seiring berjalannya waktu, hari demi hari menit demi menit dan bahkan detik-demi detik, mereka berdua membuat janji untuk saling bertemu di Stasiun Pusat di New York pukul 6 sore. Hollis: “kamu akan mengenali saya Jhon, karena saya akan menyematkan setangkai bunga mawar pada kerah bajuku”.
            Pukul 6 kurang 1 menit datanglah sang perwira muda dengan perasaan gelisah, detakan jantungpun ibarat sebuah putaran baling-baling helikopter. Tiba-tiba dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik berbaju hijau lewat di depannya, tubuhnya ramping, rambutnya pirang bergelombang, matanya biru ibarat seperti langit, alisnya bagaikan semut beriring., luar biasa cantiknya....sang perwira pun menyusul sang gadis, dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan, bahwa sang gadis tidak mengenakan bunga mawar seperti yang telah disepakati. Hanya tinggal 1 langkah lagi kemudian Jhon melihat seorang wanita berusia 40 tahun mengenakan sekuntum mawar merah di kerahnya sebagaimana yang ia janjikan.. Jhon:”Ohhh...itu pasti Hollis!!!”
            Pikiran Jhon Pun mulai berantakan antara melihat seorang yang menggunakan mawar merah di kerahnya dengan rambutnya sudah mulai berubahn dan agak gemuk, dan gadis berbaju hijau yang cantik jelita yang hampir menghilang. Perasaan sang perwira mulai terasa berbagai dua, satu sisi ia ingin lari mengejar sang gadis yang cantik, tapi satu sisi lain ia tak ingin mengkhianati Hollis yang lembut dan telah setia menemaninya selama perang. Tanpa berpikir panjang, Jhon berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah baya itu dan menyapanya “ nama saya Jhon Blanford, Anda tentu Nona Hollis, bahagia sekali bisa bertemu dengan anda, maukah anda makan malam bersama saya?”
            Sang wanita tersenyum ramah dan berkata, “Anak muda, saya tidak tahu apa artinya semua ini, tetapi seorang gadis yang berbaju hijau yang baru saja lewat memaksa saya untuk mengajak saya makan maka saya diminta untuk memberi tahu anda, bahwa dia menunggu anda di Restoran di ujung jalan ini, katanya semua ini hanya ingin menguji anda”.

(sumber: www.ezoners.com, bisa juga dilihat dari buku Deassy M.Destiani “Bukan Untuk Dibaca “the Most Inspiring Story”)

Pesan Moral dari cerita ini: yang namanya sebuah hubungan yang tulus itu, bagaimanapun rupa pasangan kita, itu tidak akan merubah perasaan itu. Sesibuk apapun pasangan kita, sejauh apapun dia, kita tetap tahu di mana buat menempatkan hati ini. Yang penting dalam sebuah hubungan tersebut harus ada yang namanya saling menjaga kepercayaan, kesetiaan dan kekonsistenan pada setiap pasangan yang menjalankannya. dan perlu di ingat "HAKIKAT CINTA" bukankan dalam sebuah hubungan itu untuk saling melengkapi kekurangan bukan kelebihan, kalau dalam sebuah hubungan melengkapi sebuah kelebihan, jadi apalah artinya sebuah perjuangan dalam sebuah hubungan. semoga ini bisa jadi renungan.

Kamis, 12 Maret 2015

Dibalik Doa Yang Belum Terkabul


            Ada orang yang rajin berdoa, minta sesuatu sama Allah, orangnya sholeh, ibadahnya baik, tapi doa tak kunjung terkabul. Sebulan di tunggu masih belum terkabul juga. Tetap dia berdoa. Hingga hampir satu tahun doa yang ia panjatkan, belum terkabul juga. Dia melihat kawannya, orangnya biasa aja, bandel, suka nipu, sholat bolong-bolong,,tapi anehnya pas apa yang dia doakan semua terpenuhi,.,lantas anak sholeh ini pun heran..??
             Akhirnya dia pun datang ke ustad, diceritakanlah semua permasalahan yang ia hadapi tentang doanya yang sulit terkabul, sedangkan temannya yang bandel malah dapat apa yang dia inginkan. Sang ustad pun tersenyum mendengar cerita anak sholeh tadi,,.,bertanya lah si ustad kepada anak tersebut,,.”kalau adek lagi duduk di warung, kemudian datang pengamen yang penampilannya gadel, acak-acakan, main musiknya asal-asalan, suaranya fals, bagaimana sikap adek?” anak sholeh tadi pun menjawab “ segera saya kasih uang pak ustad supaya dia gk lama-lama disini,.,”
            Ustad pun bertanya lagi “ kalau pengamennya yang datang rapi, main musiknya enak, suaranya bagus terus adek gimana..??
            Dan anak sholeh tadi pun menjawab “ kalau gitu, saya dengerin dulu lah ustad, saya biarin dia nyanyi sampai selesai, lama pun gk apa-apa,.,malah kalau bisa lagunya di tambah,.,kalau bisa pun saya bayar lebih untuk request,.,"
            Pak ustad pun tersenyum,.,.begitulah nak, Allah ketika melihat engkau yang sholeh datang menghadapnya, Allah betah ngedengarin doamu, melihat kamu, dan Allah pengen sering ketemu kamu dalam waktu yang lama,,.buat Allah ngasih apa yang kamu mau itu gampang sekali,.,tinggal kun fayakun aja,,.tetapi Allah nahan dulu,,supaya kamu biar khusu’, biar lebih dekat lagi sama Allah.
            Coba bayangin,.kalau doamu cepat dikabulkan,.,apa kamu bakal sedekat ini??? Dan di penghujung nanti, apa yang kamu dapatkan jauh lebih besar dari apa yang kamu minta,.,beda sama kawanmu, Allah buru-buru kasih aja, udah jatahnya ya segitu doing, gk nambah lagi..dan yakinlan, kalaupun apa yang kamu minta ternyata gk Allah kasih sampai akhir hidupmu, masih ada akhirat, nak,,”,., seperti pesan Ali Bin Abi Thalib” barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya dia memperbaiki hubungannya dengan orang lain, barang siapa yang memperhatikan urusan akhiratnya, Allah akan memperhatikan urusan dunianya, barang siapa menjadi penasihat bagi dirinya sendiri, Allah akan menjadi penjaganya.” Jadi, sebaik-baik pembalasan adalah jatah surga buat kita, yang penting berpikir positif aja, karena sesungguhnya Allah maha pengasih dan lagi maha penyayang,..enggak ngerasa kurang kita disitu, karena sesungguhnya hidup ini hanyalah sementara..akhiratlah yang kekal selamanya..
            Semoga kisah ini menjadi pelajaran buat kita semua,, aamiin ya rabbal ‘alamiin :-)